Rupiah Bangkit ke Kisaran Rp17 Ribu setelah Naik 0,34 Persen

Rupiah Bangkit ke Kisaran Rp17 Ribu setelah Naik 0,34 Persen

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (10/6/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi dampak gejolak ekonomi global.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.25 WIB, rupiah berada di level Rp17.997,5 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 60,5 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.058 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp18.136 per dolar AS pada waktu yang sama.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Meski demikian, ia memprediksi rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 per USD hingga Rp18.100 per USD,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, salah satu sentimen utama yang memengaruhi pasar adalah keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan tersebut juga bertujuan menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan kenaikan BI Rate, bank sentral berharap dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik melalui imbal hasil yang lebih kompetitif sehingga mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.

Cadangan Devisa Menurun

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun menjadi USD144,9 miliar. Angka tersebut lebih rendah USD1,3 miliar dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai USD146,2 miliar.

Penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerbitan obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi tersebut juga menjadi level terendah sejak Juli 2024.

Meski demikian, cadangan devisa saat ini masih dinilai cukup untuk mendukung stabilitas sektor eksternal dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi

Selain kebijakan moneter dari Bank Indonesia, pasar juga mencermati langkah pemerintah yang tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru.

Kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar AS serta dampaknya terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Pemerintah juga akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) yang diproyeksikan menjadi salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat keuangan regional.

Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung serta mendukung penguatan rupiah dalam jangka menengah.