Laju Dolar AS Menguat Usai Sentimen Suku Bunga The Fed Kembali Memanas

Laju Dolar AS Menguat Usai Sentimen Suku Bunga The Fed Kembali Memanas

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Penguatan greenback didorong oleh solidnya data ekonomi AS, menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta lonjakan tajam imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Mengutip data Investing pada Kamis, 24 September 2026, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia melonjak 0,5 persen ke posisi 101,14. Angka ini menjadi level tertinggi sejak 28 Juli.

Aktivitas Bisnis Solid dan Tekanan Inflasi AS

Penguatan mata uang AS terakselerasi setelah rilis laporan aktivitas bisnis oleh S&P Global. Pada September, aktivitas bisnis AS mencatatkan pertumbuhan tercepat sejak Juli 2021, ditopang oleh ekspansi yang solid pada sektor manufaktur dan jasa.

Di sisi lain, laporan tersebut mencatat rata-rata biaya input barang dan jasa melonjak signifikan, mendorong inflasi keseluruhan ke posisi tertinggi sejak Oktober 2022 akibat tingginya biaya bahan bakar serta transportasi.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang resilient dan tekanan inflasi yang memanas mengindikasikan peluang ketatnya kebijakan moneter The Fed:

  • CME FedWatch: Probabilitas FOMC menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober melonjak menjadi hampir 69 persen, dari sebelumnya 55 persen.
  • Komentar Hawkish: Gubernur The Fed Michael Barr menegaskan bahwa risiko terhadap target inflasi jangka panjang sebesar dua persen telah meningkat, yang menuntut kalibrasi ulang pada kebijakan moneter.
  • Lonjakan Yield US Treasury: Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melesat 16,8 basis poin ke posisi 5,116 persen—posisi tertinggi sejak Juli 2007. Sementara tenor 5 tahun melonjak 15,5 basis poin ke level 4,998 persen.

Euro, Poundsterling, dan Yen Tertekan

Laju penguatan dolar as menguat secara langsung menekan mata uang utama lainnya pada sesi perdagangan:

  • Euro (EUR): Melemah 0,6 persen ke level USD1,1382, meskipun data S&P menunjukkan pertumbuhan output Zona Euro mencatatkan laju tercepat sejak April 2023.
  • Poundsterling (GBP): Terkoreksi 0,8 persen menjadi USD1,3243 seiring melambatnya pertumbuhan output sektor jasa dan manufaktur Inggris ke level terendah dalam tiga bulan.
  • Yen Jepang (JPY): Melanjutkan pelemahan selama empat sesi berturut-turut di tengah sikap waspada pelaku pasar terhadap potensi intervensi otoritas moneter Jepang.