Jelang Data Inflasi AS, Dolar Melemah sementara Euro dan Rupee Menguat

Jelang Data Inflasi AS, Dolar Melemah sementara Euro dan Rupee Menguat

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, setelah muncul pernyataan bernada dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed) dan penguatan euro. Sementara itu, rupee India melanjutkan reli hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan setelah bank sentral melakukan intervensi agresif.

Dikutip dari Investing, Rabu, 14 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,4 persen ke level 102,20. Meski melemah, indeks tersebut masih berada di dekat level tertinggi dalam 18 bulan.

Rupee India Menguat Usai Intervensi Bank Sentral

Rupee India menjadi salah satu mata uang yang mencuri perhatian di pasar Asia. Mata uang tersebut menguat ke level 95,305 per dolar AS, sehari setelah mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam enam bulan terakhir.

Penguatan rupee dipicu langkah intervensi agresif Reserve Bank of India (RBI) pada akhir pekan sebelumnya. Bank sentral membuka fasilitas valuta asing khusus yang memungkinkan perusahaan pemasaran minyak milik negara memperoleh dolar secara langsung dari cadangan devisa.

Langkah tersebut bertujuan mengurangi permintaan dolar di pasar spot yang berasal dari perusahaan-perusahaan tersebut. Selain itu, aturan lebih ketat terhadap kontrak derivatif valuta asing tanpa eksposur aset dasar mendorong pelaku perdagangan dengan leverage dan spekulan yang mengambil posisi jual untuk menutup posisi mereka.

Kombinasi kebijakan tersebut membantu meredakan tekanan terhadap rupee dan mendorong penguatannya di pasar valuta asing.

Euro Menguat, tetapi Masih Tertekan Risiko Fiskal Prancis

Di pasar Eropa, euro naik 0,3 persen menjadi USD1,1198. Namun, mata uang tunggal tersebut masih berada di dekat level terendah sejak Mei 2025.

Kinerja euro dibayangi kekhawatiran investor terhadap proyeksi defisit anggaran Prancis sebesar 5,4 persen serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden pada 2027.

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,88 persen. Meski demikian, selisih imbal hasil dengan obligasi pemerintah Jerman masih lebar sehingga premi risiko terhadap aset Prancis tetap tinggi.

Di tengah ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan mempertahankan pendekatan kebijakan yang hati-hati, euro belum memperoleh dukungan imbal hasil yang cukup untuk keluar dari tren pelemahan beberapa bulan terakhir.

Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Pelaku pasar valuta asing pekan ini mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS. Kedua indikator tersebut dijadwalkan dirilis pada Rabu dan Kamis untuk memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan inflasi serta arah kebijakan moneter The Fed.

Data inflasi tersebut menjadi perhatian setelah sejumlah indikator sebelumnya mendorong pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, pada Selasa menyatakan masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Namun, ia tidak melihat kebutuhan untuk kenaikan tambahan pada 2027.

Williams juga menyoroti tekanan disinflasi yang mendasar meskipun harga energi dan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI) masih memberikan tekanan terhadap perekonomian.

Imbal Hasil Treasury AS Kembali Turun

Selain data inflasi, investor juga memantau pergerakan pasar obligasi pemerintah AS setelah pasar pendapatan tetap kembali aktif usai libur Columbus Day.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS melanjutkan penurunan yang berlangsung sejak pekan sebelumnya. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun 3,9 basis poin dan berakhir di level 5,209 persen.

Penurunan imbal hasil tersebut meredakan tekanan jual obligasi yang sebelumnya berlangsung secara berkelanjutan. Pergerakan dolar, euro, dan rupee selanjutnya akan turut dipengaruhi perkembangan data inflasi AS serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral.