Pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Tanjung Jabung Barat menunjukkan hasil positif setelah delapan tahun pendampingan intensif melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PetroChina International Jabung Ltd (PCJL). Inisiatif ini tidak hanya menghidupkan kembali varietas kopi endemik Jambi, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif dan UMKM lokal.
CSR & Comdev Supervisor PCJL, Ahmad Ramadlan, menjelaskan bahwa pendampingan dimulai sejak 2015–2017 dengan fokus pada peningkatan kualitas pascapanen, pengendalian penyakit akar putih, hingga penerapan metode budidaya berkelanjutan.
“Pendampingan PetroChina dimulai pada 2015–2017 dengan fokus pada peningkatan kualitas pascapanen, pengendalian penyakit akar putih, serta penerapan metode budidaya berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Meski produktivitas Liberika lebih rendah dibanding Arabika dan Robusta, varietas ini memiliki karakter unik yang menjadikannya komoditas bernilai tinggi. Kecamatan Betara sebagai sentra produksi juga telah memperoleh sertifikat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), memperkuat identitas Liberika sebagai aset lokal khas daerah.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PetroChina mendirikan Gerai Mekar Jaya pada 30 Oktober 2017 sebagai pusat edukasi, hilirisasi produk, dan pemberdayaan UMKM. Seluruh produk yang dijajakan berasal dari pengrajin lokal, seperti Paristo, Liberika Café Aji, Kopi Mekar, Soma, MPL, dan MPG.
“Gerai ini kini menjadi salah satu titik penting dalam memperkenalkan Liberika kepada masyarakat luas, sekaligus ruang berkumpul komunitas dan pengembangan ekowisata,” ucap Ahmad.
Ia menegaskan bahwa program ini dirancang dengan dampak jangka panjang. “Liberika ini bukan sekadar komoditas, tapi identitas daerah. Tantangan kami adalah membantu masyarakat menjaga keberlanjutannya,” katanya.
PetroChina tidak hanya membangun gerai, tetapi juga meningkatkan kapasitas petani dan UMKM agar mandiri dan mampu berinovasi dari hulu ke hilir. Gerai Mekar Jaya kini berkembang menjadi ruang kreatif dengan berbagai aktivitas, mulai dari pertunjukan seni, pelatihan barista, hingga pelatihan peningkatan kualitas pengolahan kopi.
Pengelola UMKM Gerai Mekar Jaya, Harihadi, menuturkan bahwa pembinaan PetroChina membawa perubahan besar bagi masyarakat. “Dulu kami hanya menjual green bean tanpa tahu cara mengolah dan memasarkan. Sekarang anak muda bisa menjadi barista, UMKM punya produk sendiri, dan gerai ini menjadi pusat kegiatan masyarakat. Dampaknya terasa langsung pada ekonomi keluarga kami,” katanya.
Meningkatnya permintaan konsumen turut mendorong harga green bean Liberika hingga Rp85.000 per kilogram. Meski sebagian petani memilih mengalihfungsikan lahan ke komoditas lain, pasar Liberika tetap terbuka berkat karakter rasa unik dan minimnya pesaing di tingkat nasional.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menegaskan bahwa kontribusi industri hulu migas tidak hanya melalui produksi energi, tetapi juga melalui program pemberdayaan masyarakat.
“Inisiatif PetroChina dalam mengembangkan kopi Liberika dan UMKM adalah contoh nyata bagaimana kegiatan hulu migas memberikan nilai tambah langsung bagi masyarakat. Ketika kapasitas petani meningkat, UMKM naik kelas, dan ekosistem kreatif tumbuh, manfaat ekonomi yang tercipta akan mengalir hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Dikutip dari RRI.co.id