Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan di tengah ekspektasi pasar terhadap lanjutan pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun 2026. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, tercatat turun 0,1 persen ke level 97,96.
Dilansir dari FXStreet, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) bulan Desember yang dijadwalkan rilis pada Selasa. Dokumen tersebut dinilai berpotensi memberikan gambaran lebih jelas mengenai dinamika perdebatan internal The Fed terkait arah kebijakan suku bunga pada 2026.
Pada pertemuan Desember, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp) sehingga kisaran target berada di level 3,50–3,75 persen. Sepanjang tahun 2025, The Fed telah memangkas suku bunga total 75 bp di tengah tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja, meskipun tekanan inflasi masih bertahan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas suku bunga tetap dipertahankan pada pertemuan The Fed bulan Januari mencapai 81,7 persen, meningkat dari 77,9 persen sepekan sebelumnya. Sementara itu, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 bp turun menjadi 18,3 persen dari sebelumnya 22,1 persen.
Di sisi lain, nilai tukar yen Jepang mengalami penguatan pada Senin setelah sempat tertekan tajam pada akhir pekan lalu. Yen tercatat menguat 0,3 persen terhadap dolar AS ke level 156,13 per dolar, setelah melemah 0,5 persen pada perdagangan Jumat.
Penguatan yen terjadi seiring sinyal kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ). Ringkasan opini rapat kebijakan BOJ bulan Desember menunjukkan sejumlah pembuat kebijakan menilai perlunya kenaikan suku bunga lanjutan. Pada pertemuan tersebut, BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 30 tahun, yakni 0,75 persen dari sebelumnya 0,5 persen.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, pekan lalu juga menegaskan bahwa Jepang memiliki keleluasaan untuk menangani pergerakan yen yang dinilai berlebihan. Peringatan potensi intervensi tersebut turut membantu menahan volatilitas pasangan dolar-yen, meskipun sentimen negatif terhadap yen masih terlihat pada pasangan mata uang lainnya.
“Saya pikir posisi beli yen cukup menyakitkan. Kita melihat beberapa ekspresi posisi jual yen terhadap mata uang ini, khususnya yen Australia. Pasar masih mencoba mencari tahu peran apa yang dimainkan yen sebagai aset safe haven,” ujar Manajer Cabang Tokyo State Street, Bart Wakabayashi.
Sementara itu, euro mendapat dukungan sentimen geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme terkait pembicaraan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina. Euro tercatat menguat 0,1 persen ke level USD1,1780.
Adapun dolar Australia relatif stabil di level USD0,6714, sementara dolar Selandia Baru (kiwi) bergerak datar di posisi USD0,5830.
Dikutip dari metrotvnews.com