Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada pembukaan perdagangan Rabu (11/3/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah dan dinamika pasar energi dunia.
Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 09.44 WIB rupiah berada di level Rp16.869 per dolar AS. Posisi tersebut melemah enam poin atau sekitar 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.863 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.874 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan cenderung fluktuatif, meskipun berpotensi ditutup menguat.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.820 per USD hingga Rp16.870 per USD,” ujar Ibrahim.
Sentimen Konflik Iran Pengaruhi Pergerakan Rupiah
Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi sentimen geopolitik, terutama terkait komunikasi antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai proposal penyelesaian cepat konflik Iran.
Langkah tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Trump juga menyebut bahwa perang melawan Iran kemungkinan akan segera berakhir dan perkembangan konflik tersebut telah melampaui perkiraan awal yang sebelumnya diperkirakan berlangsung selama empat hingga lima minggu.
Namun, pernyataan itu mendapat respons dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menegaskan bahwa Iran akan menentukan akhir perang dan tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.
Di sisi lain, pasar juga mencermati kemungkinan Amerika Serikat melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia serta rencana pelepasan cadangan minyak darurat untuk menekan lonjakan harga minyak global.
Negara-negara anggota G7 juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak dunia, meskipun belum berkomitmen untuk melepas cadangan minyak darurat.
Cadangan Devisa Indonesia Menyusut
Selain sentimen global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi cadangan devisa Indonesia yang mengalami penurunan.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar USD151,9 miliar, turun dibandingkan posisi Januari 2026 yang mencapai USD154,6 miliar.
Bank Indonesia menyebut penurunan tersebut dipengaruhi langkah intervensi moneter yang dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Meski demikian, Bank Indonesia memastikan posisi cadangan devisa tersebut masih tergolong aman. Cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada kisaran tiga bulan impor.
Bank Indonesia juga menilai cadangan devisa yang ada masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Ke depan, sektor eksternal Indonesia diperkirakan tetap solid dengan dukungan cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing yang didorong oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional.
Dikutip dari metrotvnews.com