Bursa Wall Street Melemah akibat Kebuntuan AS-Iran dan Tekanan Obligasi

Bursa Wall Street Melemah akibat Kebuntuan AS-Iran dan Tekanan Obligasi

Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Tekanan pasar dipicu minimnya perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali meningkatnya aksi jual obligasi global.

Mengutip Investing.com, indeks S&P 500 turun 0,6 persen ke level 7.355,45. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,8 persen menjadi 25.870,71 poin.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,7 persen ke level 49.364,31 poin.

Saham Teknologi Melemah Jelang Laporan Nvidia

Tekanan terbesar di Wall Street datang dari sektor teknologi menjelang laporan keuangan kuartalan Nvidia yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat.

Saham Nvidia ditutup turun 0,8 persen dan menyeret saham teknologi lainnya ke zona merah. Meski demikian, beberapa saham semikonduktor seperti Marvell Technology dan Arm masih mampu mencatat penguatan.

Kepala strategi pasar di Jones Trading, Michael O’Rourke, mengatakan aksi ambil untung mulai terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi global.

“Aksi jual obligasi global terus menekan pasar saham,” ujarnya.

Menurut pelaku pasar, laporan keuangan Nvidia menjadi sangat penting karena perusahaan tersebut dianggap sebagai barometer utama perkembangan industri kecerdasan buatan atau AI.

Kepala investasi Granite Bay Wealth Management, Paul Stanley, menilai laporan Nvidia akan menjadi penentu arah pasar saham berikutnya.

“Investor membutuhkan jaminan bahwa kisah AI masih hidup dan berkembang dengan baik,” kata Stanley.

Ketegangan AS-Iran Bayangi Sentimen Pasar

Sentimen negatif pasar juga dipicu ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Donald Trump mengungkapkan dirinya sempat hampir melancarkan serangan terhadap Iran sebelum akhirnya menunda langkah tersebut atas permintaan sejumlah pemimpin negara Teluk.

Trump menyatakan negosiasi dengan Iran masih berlangsung, namun militer AS tetap disiagakan untuk melakukan serangan jika kesepakatan damai gagal tercapai.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah mengirim proposal perdamaian kepada AS yang mencakup penghentian konflik dan pencabutan sanksi ekonomi.

Meski demikian, pasar masih meragukan tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.

Lonjakan Yield Obligasi Tekan Wall Street

Aksi jual obligasi global kembali meningkat pada perdagangan Selasa. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,667 persen, level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, yield obligasi AS tenor 30 tahun mencapai 5,180 persen, tertinggi sejak 2007.

Kenaikan imbal hasil obligasi memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengatasi tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia.

Kepala strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick, menilai pasar saham semakin sulit mengabaikan kenaikan yield obligasi dan tingginya harga minyak.

Secara historis, kenaikan imbal hasil obligasi biasanya memberi tekanan besar terhadap saham teknologi karena valuasi sektor tersebut sangat bergantung pada ekspektasi keuntungan di masa depan.