Harga Minyak Global Anjlok Lebih dari 6 Persen di Pasar Perdagangan

Harga Minyak Global Anjlok Lebih dari 6 Persen di Pasar Perdagangan

Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengakhiri perang di Timur Tengah sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Investing.com, Selasa, 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional turun USD6,51 atau 6,6 persen menjadi USD92,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan pasar domestik AS turun USD6,12 atau 6,5 persen menjadi USD88,65 per barel.

Sempat Tembus USD100 per Barel

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam dan menembus level USD100 per barel pada perdagangan Senin. Bahkan, harga Brent sempat mencapai USD119,50 per barel dan WTI menyentuh USD119,48 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh pengurangan pasokan minyak dari Arab Saudi dan sejumlah produsen lainnya. Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan besar terhadap pasokan minyak global.

Proposal Perdamaian Redakan Kekhawatiran Pasar

Harga minyak kemudian mulai turun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Donald Trump. Dalam percakapan tersebut, Putin disebut menyampaikan proposal yang bertujuan untuk mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran.

Menurut seorang ajudan Kremlin, pembicaraan tersebut memberikan harapan terhadap kemungkinan penyelesaian konflik dalam waktu lebih cepat sehingga meredakan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan minyak berkepanjangan.

Produsen Teluk Pangkas Produksi

Di sisi lain, sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk mulai memangkas produksi akibat gangguan pengiriman yang dipicu konflik tersebut.

Irak dilaporkan memangkas produksi di ladang minyak utama di wilayah selatan hingga 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari. Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi dan menyatakan keadaan kahar atau force majeure.

Kelompok negara G7 juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna merespons lonjakan harga minyak global. Namun, negara-negara tersebut belum menyatakan komitmen untuk melepaskan cadangan minyak darurat.

Dikutip dari metrotvnews.com