Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif di sekitar level terkuatnya dalam satu tahun terakhir pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tetap agresif dalam menjaga stabilitas inflasi.
Berdasarkan data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia tercatat turun tipis 0,1 persen ke level 100,76. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di jalur mencatat kinerja mingguan terbaik sejak 2024 setelah sempat menembus level psikologis 101,00 pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan dolar dipicu oleh proyeksi terbaru anggota Federal Reserve yang menunjukkan sebagian pejabat bank sentral AS mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada 2026. Sinyal tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat dalam jangka menengah.
Analis ING menilai pasar mulai mengantisipasi kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun apabila data ekonomi AS tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Meski demikian, mereka memperingatkan bahwa ekspektasi tersebut berpotensi berlebihan.
Di sisi lain, tercapainya kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran turut mengurangi sebagian faktor pendukung penguatan dolar. Selama konflik berlangsung, dolar mendapat keuntungan sebagai aset safe haven karena AS dinilai relatif terlindungi dari gejolak harga energi global.
Namun, ketidakpastian masih membayangi implementasi kesepakatan tersebut. Pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss dilaporkan ditunda setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Jenewa.
Sementara itu, poundsterling Inggris menguat 0,3 persen ke level USD1,3238 setelah perkembangan politik domestik yang memperkuat posisi Andy Burnham sebagai salah satu tokoh potensial di Partai Buruh Inggris.
Fokus pasar juga tertuju pada yen Jepang yang terus mengalami tekanan. Mata uang Jepang diperdagangkan di kisaran 161,26 yen per dolar AS, mendekati level terlemah dalam empat dekade terakhir. Kondisi tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menstabilkan nilai tukar.
Pelemahan yen terjadi meskipun Bank Sentral Jepang (BoJ) telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, pelaku pasar menilai langkah tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi dominasi dolar AS yang didukung prospek kebijakan The Fed.
Data inflasi Jepang yang dirilis pada Mei 2026 menunjukkan indeks harga konsumen inti naik 1,4 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar tetapi masih berada di bawah target inflasi 2 persen yang ditetapkan BoJ selama empat bulan berturut-turut.
Menurut Capital Economics, penurunan harga minyak dunia pasca pembukaan kembali Selat Hormuz memang mengurangi risiko perlambatan ekonomi Jepang. Namun, berkurangnya tekanan inflasi juga berpotensi membuat BoJ menunda kenaikan suku bunga berikutnya hingga Oktober 2026.
Dengan kombinasi kebijakan moneter AS yang masih ketat dan ketidakpastian arah kebijakan bank sentral negara lain, dolar AS diperkirakan tetap menjadi salah satu aset yang menarik perhatian investor global dalam beberapa waktu ke depan.