Emas Merosot Nyaris 2 Persen di Tengah Tekanan Dolar AS dan Kebijakan The Fed

Emas Merosot Nyaris 2 Persen di Tengah Tekanan Dolar AS dan Kebijakan The Fed

Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Selasa waktu setempat seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Investing.com, Rabu (24/6/2026), harga emas spot turun 1,9 persen menjadi USD4.110,11 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 1,8 persen ke level USD4.129,00 per ons.

Pelemahan harga emas juga dipengaruhi meredanya sentimen risiko global setelah perhatian investor beralih ke aksi jual besar-besaran di sektor teknologi, sementara kekhawatiran geopolitik dan pergerakan harga minyak mulai berkurang.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati hasil pertemuan terbaru Federal Reserve yang digelar pekan lalu. Bank sentral AS merilis Summary of Economic Projections (SEP) yang menunjukkan pandangan lebih hawkish dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Dalam pembaruan dot plot tersebut, setidaknya separuh anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga pada tahun ini untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Meski harga minyak dunia telah mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir, pasar kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Proyeksi tersebut berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga.

Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC Juli meningkat menjadi lebih dari 36 persen, dibandingkan hanya 8,5 persen pada pekan sebelumnya. Sementara itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat hingga akhir tahun juga terus menguat.

Kondisi suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya sehingga dapat menekan permintaan.

Di tengah tekanan tersebut, investor masih memantau perkembangan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.

Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tingkat tinggi tanpa batas waktu sebagai bagian dari proses negosiasi. Trump juga menyebut kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi komitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas dari gangguan distribusi energi.

Namun, pemerintah Iran membantah adanya kesepakatan inspeksi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Perbedaan pernyataan dari kedua pihak tersebut menambah ketidakpastian geopolitik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Meskipun harga emas saat ini berada dalam tekanan akibat faktor moneter dan penguatan dolar AS, risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda dinilai masih berpotensi memberikan dukungan terhadap permintaan emas sebagai aset safe haven dalam jangka menengah.