Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, mengalami pelemahan di tengah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.973 per dolar AS atau turun 21 poin setara 0,12 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS. Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.950 per dolar AS, sedikit lebih kuat dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya probabilitas pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut Ibrahim, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS mencapai sekitar 70 persen pada September 2026 dan bahkan mengantisipasi tambahan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang. Pandangan tersebut muncul setelah pertemuan kebijakan terbaru The Fed serta sejumlah pernyataan pejabat bank sentral AS yang dinilai bernada hawkish.
Selain faktor moneter, sentimen global juga dipengaruhi ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu, namun pemerintah Iran membantah adanya kesepakatan tersebut dalam proses negosiasi yang berlangsung.
Dari dalam negeri, pasar merespons positif keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026.
Penundaan tersebut dilakukan setelah muncul sejumlah kekhawatiran mengenai aksesibilitas pasar Indonesia pada awal tahun. Sebelumnya, MSCI juga sempat membekukan perubahan terhadap indeks ekuitas Indonesia pada Januari akibat isu investability.
Ibrahim menilai proses peninjauan yang masih berlangsung akan menjadi salah satu faktor penting yang terus dicermati investor dalam beberapa bulan ke depan, mengingat status pasar Indonesia berpengaruh terhadap arus investasi asing ke pasar keuangan domestik.
Meski terdapat sentimen positif dari penundaan evaluasi MSCI, tekanan dari penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di Amerika Serikat masih menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.