Rupiah Pagi Ini Berada di Posisi Rp17.859 per Dolar AS

Rupiah Pagi Ini Berada di Posisi Rp17.859 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026) di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan sejumlah data ekonomi penting dari AS.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.42 WIB, rupiah berada di level Rp17.859 per dolar AS atau turun 16 poin setara 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.843 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.814 per dolar AS pada periode yang sama.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif, namun masih berpotensi ditutup di zona pelemahan.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 per dolar AS hingga Rp17.890 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, sentimen utama yang memengaruhi pasar berasal dari perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump kembali memperingatkan Iran terkait kemungkinan aksi militer tambahan apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya diplomatik yang dilakukan kedua negara. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya membuka babak baru perundingan dengan perwakilan Iran di Swiss.

Meski demikian, putaran pertama pembicaraan AS-Iran yang berlangsung di Swiss telah berakhir dengan sejumlah perkembangan positif. Teheran mengklaim memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, sehingga membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Para mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas. Diskusi teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis dalam waktu dekat. Di antaranya adalah revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve.

Data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk baru terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus memantau sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi inflasi nasional. Salah satunya adalah dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Turbo.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi global berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari faktor eksternal dan berdampak langsung pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Selain itu, risiko cuaca juga menjadi perhatian. Fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga Oktober atau November berpotensi memberikan tekanan terhadap kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).

Meski demikian, BI menilai risiko dari sisi produksi pertanian masih dapat dikendalikan karena kapasitas produksi pupuk nasional dinilai cukup memadai untuk mendukung sektor pangan.

Bank Indonesia memastikan laju inflasi yang mulai meningkat masih berada dalam rentang target yang telah ditetapkan bersama pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen.

Untuk menjaga stabilitas harga pangan, BI terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) guna memastikan pasokan tetap terjaga dan tekanan inflasi dapat dikendalikan.