Nilai Tukar Rupiah Awali Perdagangan di Posisi Rp17.948 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Awali Perdagangan di Posisi Rp17.948 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.948 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 45 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.893 per dolar AS pada waktu yang sama. Angka tersebut menunjukkan penguatan dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.925 per dolar AS.

Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Menurut riset Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut dipicu serangan kelompok Houthi terhadap sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di Kota Dhahran.

Selain itu, Iran disebut menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai bertujuan menjaga harga minyak tetap tinggi sekaligus memengaruhi pemilihan umum paruh waktu di AS.

Data Inflasi AS Tekan Rupiah

Faktor lain yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah rilis data Indeks Harga Konsumen AS. Pada September 2026, inflasi umum atau headline CPI tercatat naik 0,6 persen secara bulanan, sedangkan inflasi inti atau core CPI meningkat 0,3 persen.

Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi pasar masing-masing sebesar 0,6 persen untuk inflasi umum dan 0,2 persen untuk inflasi inti.

Data inflasi tersebut kembali memunculkan peluang kenaikan suku bunga acuan AS pada Oktober. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir bulan ini meningkat menjadi sekitar 47 persen, dari sebelumnya hampir 22 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi menopang penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap rupiah. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi AS serta situasi geopolitik global untuk memperkirakan arah pergerakan mata uang Garuda.