Amerika Serikat berada di ambang pencapaian bersejarah sebagai eksportir minyak mentah bersih untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Momentum ini didorong oleh lonjakan ekspor yang hampir menyentuh rekor tertinggi, seiring meningkatnya permintaan dari kawasan Asia dan Eropa.
Lonjakan permintaan terjadi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran. Ancaman blokade di Selat Hormuz oleh Iran diperkirakan dapat mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, sehingga memaksa negara-negara importir mencari sumber alternatif.
Data pemerintah AS menunjukkan selisih antara impor dan ekspor minyak mentah menyusut drastis menjadi hanya 66 ribu barel per hari, level terendah sejak pencatatan dimulai pada 2001. Di sisi lain, ekspor minyak AS melonjak hingga 5,2 juta barel per hari, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad, Janiv Shah, menilai fenomena ini mencerminkan perubahan signifikan dalam rantai pasok energi global. Pembeli di Eropa dan Asia kini mencari pasokan hingga ke wilayah yang lebih jauh, didorong oleh selisih harga yang menguntungkan.
Berdasarkan data pelacakan kapal, sekitar 47 persen ekspor minyak AS atau 2,4 juta barel per hari mengalir ke Eropa, sementara 37 persen atau sekitar 1,49 juta barel per hari menuju Asia. Negara tujuan utama meliputi Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan.
Di saat yang sama, impor minyak AS justru turun lebih dari satu juta barel per hari menjadi sekitar 5,3 juta barel per hari. Meski hampir seimbang, secara struktural AS masih membutuhkan impor karena sebagian kilang domestiknya dirancang untuk mengolah minyak berat dan asam.
Disrupsi pasokan dari Timur Tengah juga memicu lonjakan selisih harga antara minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) hingga menembus USD20,69 per barel. Kondisi ini membuat minyak AS semakin kompetitif di pasar global.
Analis Kpler, Matt Smith, memperkirakan ekspor minyak mentah AS dapat mencapai 5,2 juta barel per hari sepanjang April, mendekati batas maksimal kapasitas logistik.
Namun, sejumlah tantangan masih membayangi, seperti keterbatasan kapasitas pipa, ketersediaan kapal tanker, serta lonjakan biaya pengiriman. Diperkirakan kapasitas maksimum ekspor AS berada di kisaran 6 juta barel per hari.
Meski demikian, permintaan global terhadap minyak AS diperkirakan tetap kuat dalam jangka pendek, terutama selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung dan pasokan dari kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya stabil.