Dow Jones dan S&P 500 Melemah di Tengah Kekhawatiran terhadap Ekonomi AS

Dow Jones dan S&P 500 Melemah di Tengah Kekhawatiran terhadap Ekonomi AS

Indeks S&P 500 melemah pada perdagangan Selasa, 16 Desember 2025, seiring munculnya data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang beragam dan memicu kekhawatiran terhadap kesehatan ekonomi. Meski demikian, pemulihan sejumlah saham terkait kecerdasan buatan (AI), termasuk Oracle, membantu menahan tekanan di sektor teknologi.

Mengutip Investing.com, Rabu, 17 Desember 2025, Dow Jones Industrial Average turun 302 poin atau 0,6 persen, indeks S&P 500 terkoreksi 0,3 persen, sementara NASDAQ Composite justru naik 0,2 persen.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan jumlah pekerjaan non-pertanian bertambah 64 ribu pada November, melampaui ekspektasi pasar sebesar 50 ribu dan membaik dibandingkan penurunan 105 ribu pekerjaan pada Oktober. Namun demikian, tingkat pengangguran justru naik menjadi 4,6 persen, lebih tinggi dari proyeksi ekonom sebesar 4,5 persen dan menjadi level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar mengenai potensi perlambatan di pasar tenaga kerja AS. Jefferies dalam catatan terbarunya menilai data tersebut belum cukup kuat untuk mengubah keseimbangan risiko secara signifikan. “Jika pertemuan Januari diadakan hari ini, FOMC kemungkinan akan memilih mempertahankan suku bunga. Namun, kami masih memperkirakan pelonggaran inflasi lebih lanjut pada 2026 akan membuka ruang penurunan suku bunga menuju level netral,” tulis Jefferies.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) November yang akan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi tetap menjadi dua faktor utama bagi bank sentral AS dalam menentukan langkah pemangkasan suku bunga.

Di sisi lain, penjualan ritel AS tercatat stagnan pada Oktober, setelah sebelumnya hanya naik 0,1 persen pada September yang direvisi ke bawah. Pasar juga mencermati dinamika suksesi kepemimpinan The Fed, menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mempersempit kandidat pengganti Jerome Powell menjadi mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett.

Pada perdagangan saham individual, Tesla Inc mencatatkan rekor harga penutupan di level USD489,88. Saham Tesla didorong optimisme investor terhadap rencana perusahaan mengubah kendaraan listrik yang ada menjadi layanan taksi robot. CEO Tesla Elon Musk mengonfirmasi pengujian taksi robot tanpa monitor keselamatan di kursi penumpang depan, setelah peluncuran terbatas layanan Robotaxi di Austin pada Juni lalu.

Sementara itu, Oracle Corporation mengalami pemulihan setelah tekanan jual sebelumnya, seiring investor kembali memborong saham AI di tengah kekhawatiran valuasi. Sebaliknya, saham Pfizer Inc anjlok tajam setelah perusahaan memproyeksikan laba 2026 di kisaran USD2,80 hingga USD3 per saham, di bawah ekspektasi analis sebesar USD3,05 per saham.

Di luar pergerakan saham, bursa Nasdaq mengajukan permohonan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk memperpanjang jam perdagangan hingga 23 jam pada hari kerja. Dalam pengajuan terbaru, Nasdaq meminta izin menambah sesi perdagangan dari pukul 21.00 hingga 04.00 waktu setempat.

Dikutip dari metrotvnewws.com