Nilai Tukar Rupiah Naik 73 Poin, Bertengger di Level Rp17.800 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Naik 73 Poin, Bertengger di Level Rp17.800 per Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Senin, 29 Juni 2026, setelah sempat mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir.

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.47 WIB, rupiah berada di level Rp17.849 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat 73 poin atau sekitar 0,41 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.922 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.957 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih akan berlangsung fluktuatif. Meski sempat menguat pada awal sesi, ia memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.960 per dolar AS.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.920 per USD hingga Rp17.960 per USD,” ujar Ibrahim.

Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh respons positif pelaku pasar terhadap langkah pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dalam APBN 2026, pagu anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) untuk program MBG telah disesuaikan dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Selanjutnya, alokasi tersebut kembali dipertajam menjadi sekitar Rp228,38 triliun.

Pemerintah juga masih mengkaji peluang penghematan tambahan hingga Rp50 triliun sebagai upaya memperkuat kondisi fiskal, menjaga defisit anggaran, sekaligus meningkatkan tata kelola pelaksanaan program.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di tiga instrumen utama, yakni pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas serta mencegah depresiasi rupiah yang sebelumnya mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Apabila tekanan terhadap rupiah masih berlanjut, Ibrahim menilai BI berpotensi kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps) dalam kurun waktu dua bulan terakhir.

Menurutnya, yang dibutuhkan pasar saat ini bukan hanya kebijakan moneter yang ketat, tetapi juga kepastian arah kebijakan yang mampu menjadi jangkar ekspektasi bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama, disertai koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal.

Ibrahim juga menekankan pentingnya komunikasi Bank Indonesia dalam menjaga kepercayaan pasar, termasuk dengan menegaskan kecukupan cadangan devisa, efektivitas instrumen stabilisasi, serta komitmen menjaga pelemahan rupiah agar tidak memicu lonjakan inflasi maupun mengganggu stabilitas sistem keuangan.