Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut gejala depresi dan kecemasan pada anak sekolah serta remaja lebih dari empat kali lipat dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Temuan tersebut berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap 71 juta orang hingga Oktober 2026.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan terdapat lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu anak dengan indikasi kecemasan.
“Ada lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu dengan indikasi kecemasan,” kata Imran, dilansir Antara, Senin, 19 Oktober 2026.
Gangguan Jiwa Banyak Muncul Sejak Anak-anak
Imran menjelaskan data WHO pada 2022 menunjukkan gangguan jiwa menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, dengan lebih dari 700 juta orang terdampak depresi dan kecemasan. Namun, kurang dari separuh penderita mendapatkan penanganan.
Menurutnya, sekitar separuh gangguan jiwa muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun. Kondisi tersebut kerap tersembunyi di balik perubahan perilaku, keluhan fisik, hingga penurunan prestasi sekolah.
Perkembangan teknologi dan penggunaan smartphone serta media sosial turut menjadi perhatian. Imran mengatakan ruang digital yang semakin luas membawa berbagai risiko terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja.
Survei global Ipsos di 31 negara bahkan menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan masyarakat.
Ancaman Kesehatan Jiwa di Ruang Digital
Indonesia menghadapi tantangan besar seiring tingginya penetrasi internet. Data APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan generasi muda menjadi kelompok yang dominan.
Imran mengutip data UNICEF yang menunjukkan empat dari sepuluh anak pernah mengalami pengalaman online yang menakutkan, sementara hampir separuhnya pernah menjadi korban perundungan siber.
Penelitian RSCM-FKUI juga menemukan sepertiga anak di Jakarta terindikasi mengalami kecanduan internet. Kekerasan seksual digital dan paparan judi online turut menjadi ancaman.
Dampaknya dapat berupa kecemasan berkepanjangan, depresi, isolasi sosial, rasa bersalah, hingga keretakan hubungan keluarga.
Kemenkes Dorong Penanganan Berbasis Komunitas
Menghadapi kondisi tersebut, Kemenkes mendorong penanganan kesehatan jiwa berbasis komunitas melalui edukasi, pengasuhan positif, skrining mental rutin, intervensi cepat, serta layanan medis dan psikologis di puskesmas hingga rumah sakit.
Salah satu saluran siaga yang tersedia adalah Healing119.id, yang telah diakses lebih dari 280 ribu orang sejak Juli 2025.
Upaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk SKB 9 Kementerian/Lembaga tentang Kesehatan Jiwa Anak 2026 dan aturan perlindungan anak di ruang digital melalui PP Nomor 17 Tahun 2025.
Kemenkes juga mengajak orang tua menjadi teladan dalam penggunaan gawai, membangun komunikasi tanpa menghakimi, membuat aturan waktu layar bersama anak, serta peka terhadap tanda-tanda masalah kesehatan jiwa.
“Remaja perlu didengar tanpa dihakimi, pengasuh perlu dukungan tanpa disalahkan. Dari ruang keluarga hingga ruang publik, kesehatan jiwa generasi muda adalah fondasi masa depan bangsa,” ujar Imran.