Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (5/12/2025), mengalami pelemahan. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.651 per USD, melemah dibandingkan posisi Rp16.628 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp16.641 per USD pada waktu yang sama.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Rupiah diprediksi berada di kisaran Rp16.650 hingga Rp16.690 per USD.
Ibrahim menyebut sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah, antara lain data AS yang mendukung spekulasi pelonggaran The Fed. Pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir 90 persen pada pertemuan The Fed 9–10 Desember, menurut CME FedWatch.
Data ketenagakerjaan AS juga menunjukkan penurunan jumlah tenaga kerja swasta sebesar 32 ribu pada November, jauh di bawah ekspektasi. Indeks jasa Institute for Supply Management mencatat ekspansi moderat, tetapi data dasarnya menurun. Investor kini menunggu rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September, tolok ukur inflasi pilihan The Fed, untuk mengonfirmasi kemungkinan penurunan suku bunga.
Faktor Geopolitik dan Domestik
Ketidakpastian juga meningkat akibat laporan media AS yang menyebut pemerintahan Trump membatalkan wawancara beberapa kandidat pengganti Jerome Powell, memunculkan spekulasi bahwa Kevin Hassett bisa menjadi Ketua The Fed berikutnya.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat karena Ukraina kembali menyerang pipa minyak Druzhba di Tambov, Rusia, sementara perundingan damai antara AS dan Kremlin tidak menunjukkan kemajuan.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah dipengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 5–5,1 persen pada 2025 dan diperkirakan meningkat tipis menjadi 5,2 persen pada 2026. Proyeksi ini lebih rendah dibanding target Asumsi Ekonomi Makro APBN 2025 sebesar 5,2 persen. Para ekonom menekankan pentingnya akselerasi realisasi belanja pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025.
Dikutip dari metrotvnews.com