Kurs Rupiah Naik ke Rp17.135 per USD pada Pembukaan Perdagangan

Kurs Rupiah Naik ke Rp17.135 per USD pada Pembukaan Perdagangan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 21 April 2026, kembali mengalami penguatan. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan terhadap dolar AS akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.135 per dolar AS, menguat 33 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.168 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.184 per dolar AS pada waktu yang sama, relatif stagnan dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan Rupiah Masih Fluktuatif
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam perdagangan hari ini. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.160 hingga Rp17.200 per dolar AS.

Ketidakpastian global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang. Salah satunya adalah kembali ditutupnya Selat Hormuz setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat.

Situasi ini dipicu oleh saling klaim pelanggaran kesepakatan gencatan senjata, di mana AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz.

Tekanan dari Harga Minyak dan Suku Bunga
Kondisi geopolitik tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak hingga sekitar tujuh persen. Kenaikan harga energi ini berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi global.

Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga AS juga berubah, dengan pasar kini memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Hal ini berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Domestik dan Peringatan IMF
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga diiringi peringatan dari International Monetary Fund (IMF) kepada pemerintah agar tidak meningkatkan belanja secara berlebihan di tengah ketidakpastian global.

IMF menilai risiko resesi global dapat meningkat jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, terutama dengan dampaknya terhadap harga energi.

Penutupan Selat Hormuz dan potensi gangguan pada fasilitas energi di kawasan tersebut dinilai dapat memicu krisis energi global jika tidak segera ditemukan solusi jangka panjang.

Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global dan kebijakan ekonomi ke depan.