Pengamat politik Ray Rangkuti menilai kehadiran Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa bakal calon presiden (capres) 2029 menambah daftar tokoh individu yang berpotensi maju dalam kontestasi nasional.
Menurut Ray, kemunculan Sjafrie terjadi karena kiprah pribadi dan bukan didorong langsung oleh partai politik tertentu. Hal tersebut, kata dia, memperpanjang deretan nama capres individu yang memiliki peluang dicalonkan sebagai pemimpin nasional.
Ia menjelaskan fenomena tersebut bukan hal baru dalam politik Indonesia. Pada sejumlah pemilihan kepala daerah, banyak calon individual yang berhasil membangun citra kuat melalui akselerasi personal, meskipun pada akhirnya tetap diusung partai politik.
Tambah Persaingan di Bursa Capres
Ray menilai kemunculan Sjafrie turut menambah daftar pesaing bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam bursa Pilpres 2029.
Meski nama Gibran disebut masih memiliki elektabilitas tinggi, hadirnya figur-figur baru dinilai memperluas opsi yang dapat dipertimbangkan Presiden Prabowo Subianto dalam menentukan arah politik mendatang.
Menurut Ray, situasi tersebut dapat membuat peluang Gibran semakin kompetitif karena semakin banyak tokoh yang dinilai layak dipertimbangkan.
Peluang dan Tantangan bagi Prabowo
Ray juga mengingatkan bahwa pencalonan Sjafrie berpotensi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Prabowo. Jika berduet dengan Prabowo, kombinasi dua purnawirawan TNI tanpa dukungan partai koalisi tertentu bisa menjadi kendala politik tersendiri.
Sebaliknya, jika tidak berpasangan dengan Prabowo, peluang Sjafrie untuk melaju dinilai dapat menyempit. Situasi ini disebut Ray sebagai dinamika yang bisa menjadi berkah sekaligus berpotensi memecah kekuatan politik tertentu.
Hasil Survei IPI
Sebelumnya, survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa capres 2029, termasuk Sjafrie, beberapa gubernur, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI, Abdan Sakura, menyebut sejumlah indikator memperkuat elektabilitas Sjafrie, di antaranya kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
Menurut Abdan, tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie dinilai memiliki kelayakan cukup kuat, meskipun belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral.
Ia menambahkan, dinamika politik masih sangat terbuka, terutama jika terjadi perubahan peta koalisi, krisis politik, atau absennya figur utama dalam kontestasi mendatang.
Dikutip dari antaranews.com