Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat tipis pada pembukaan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Mengutip data perdagangan valuta asing, rupiah menguat 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.911 per USD dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.917 per USD.
Penguatan terbatas rupiah menguat 6 oktober 2026 ini terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS yang juga terpantau menguat tipis sebesar 0,23 persen ke posisi 102,167 terhadap enam mata uang utama dunia.
Kinerja Dolar AS terhadap Mata Uang Utama
Di pasar New York, penguatan dolar AS memicu tekanan pada sejumlah mata uang utama global:
- Euro (EUR): Melemah ke 1,1215 USD (dari 1,1252 USD).
- Pound Sterling (GBP): Turun ke 1,3219 USD (dari 1,3239 USD).
- Yen Jepang (JPY): Menguat ke 158,00 JPY per USD (dari 157,80 JPY).
- Franc Swiss (CHF): Naik ke 0,8307 CHF per USD (dari 0,8287 CHF).
- Krona Swedia (SEK): Naik ke 10,0403 SEK per USD (dari 10,0366 SEK).
- Dolar Kanada (CAD): Melemah tipis terhadap CAD ke posisi 1,4256 CAD (dari 1,4259 CAD).
Dinamika Geopolitik Timur Tengah Bayangi Rupiah
Sebelum menguat tipis pada Selasa pagi, rupiah sempat terkoreksi 35 poin (0,20 persen) ke level Rp17.917 per USD pada penutupan Senin (5/10/2026).
Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa tekanan pada mata uang Garuda sebelumnya dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman dengan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Ansarullah mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh serta Khurais sebagai balasan atas serangan udara koalisi. Sementara itu, pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengumumkan rencana operasi militer berskala besar, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan serta produksi minyak mentah di kawasan Teluk.