Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), dengan dua indeks utama berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Optimisme investor terhadap potensi dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran menjadi pendorong utama pergerakan pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,16 persen ke level 49.230,71. Sementara itu, S&P 500 naik 0,8 persen ke rekor penutupan baru di 7.165,08, dan Nasdaq Composite melonjak 1,63 persen ke posisi 24.836,6, juga mencetak level tertinggi baru.
Penguatan indeks S&P 500 dan Nasdaq didorong oleh sentimen positif terhadap sektor teknologi serta harapan meredanya ketegangan geopolitik global. Namun, pergerakan sektor di dalam S&P 500 masih bervariasi, dengan enam dari 11 sektor utama ditutup melemah.
Sektor perawatan kesehatan dan industri menjadi penekan utama, masing-masing turun 1,37 persen dan 0,89 persen. Sebaliknya, sektor teknologi dan barang konsumsi non-esensial mencatatkan kinerja terbaik dengan kenaikan masing-masing sebesar 2,46 persen dan 1,36 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia menunjukkan pergerakan campuran. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 1,51 persen menjadi 94,4 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent naik tipis 0,25 persen menjadi 105,33 dolar AS per barel di ICE Futures Europe.
Dari sisi emiten, saham Intel melonjak 23,6 persen setelah melaporkan kinerja kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar serta memberikan proyeksi positif. Sementara itu, Nvidia kembali melampaui kapitalisasi pasar 5 triliun dolar AS, memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan setelah Departemen Kehakiman AS menghentikan penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Keputusan ini dinilai membuka peluang bagi kandidat pilihan Presiden Donald Trump, yakni Kevin Warsh, untuk memimpin bank sentral AS ke depan.
Di sisi lain, survei sentimen konsumen terbaru dari University of Michigan menunjukkan adanya sedikit peningkatan, meskipun masih berada di level rendah historis. Hal ini mencerminkan kondisi psikologis konsumen yang masih tertekan di tengah ketidakpastian global.
Investor kini akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta laporan kinerja perusahaan dalam sepekan ke depan, yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar saham global.