Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.075 per Dolar AS pada Perdagangan Pagi Ini

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.075 per Dolar AS pada Perdagangan Pagi Ini

Rupiah membuka perdagangan pada Kamis (30/7/2026) dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi sentimen global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga respons pasar terhadap kebijakan moneter pasca perubahan kepemimpinan di Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.075 per dolar AS, atau melemah dua poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp18.082 per dolar AS, turun 37 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp18.070 hingga Rp18.130 per dolar AS.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar yang mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Meski Komando Pusat AS menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat, insiden tersebut dinilai sebagai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif mereda. Kondisi itu memunculkan kembali kekhawatiran bahwa upaya diplomasi yang sempat berlangsung dapat kembali terganggu.

Dari dalam negeri, perhatian investor juga masih tertuju pada langkah Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI. Bank sentral menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan kebijakan moneter dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

BI menyatakan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain mempertahankan kebijakan suku bunga sebagai instrumen utama, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter lainnya untuk memperkuat stabilitas pasar keuangan serta menarik aliran modal asing ke Indonesia.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan geopolitik global dan kebijakan Bank Indonesia sebagai faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.