Rupiah Mengawali Perdagangan di Rp18.036 per Dolar AS

Rupiah Mengawali Perdagangan di Rp18.036 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Pelemahan terjadi ketika dolar AS menguat menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.036 per USD. Posisi tersebut melemah 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.022 per USD.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.943 per USD pada waktu yang sama. Posisi tersebut stagnan dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.

Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif Cenderung Melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini dengan kecenderungan kembali melemah.

Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.020 hingga Rp18.070 per USD.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. BI telah menahan suku bunga tersebut selama tiga pertemuan berturut-turut.

“Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen pada rapat dewan gubernur (RDG) pada Agustus 2026,” kata Ibrahim.

Ketegangan Geopolitik dan Inflasi AS Jadi Perhatian

Selain kebijakan moneter domestik, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor.

Situasi keamanan di kawasan tersebut kembali disorot setelah muncul laporan mengenai insiden kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Dari Amerika Serikat, perkembangan indikator inflasi juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang global. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) AS periode September dilaporkan berada di atas perkiraan pasar.

“Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026 untuk mengendalikan inflasi menuju target dua persen,” ujar Ibrahim.