Suasana duka masih menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat setelah wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII.
Keluarga besar keraton kini tengah mempersiapkan prosesi tujuh harian (mitung dina) sebagai bagian dari rangkaian doa dan penghormatan terakhir bagi sang raja.
Prosesi tahlilan akan digelar secara khidmat di Sasana Parasdya, tempat di mana jenazah Sinuhun disemayamkan sebelum dimakamkan.
“Kalau sekarang ini kita mempersiapkan tujuh hari. Besok itu tujuh hariannya, tahlilan seperti biasa di Parasdya,”
ujar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbaikusuma Dewayani, putri tertua almarhum, Kamis (6/11/2025).
Tradisi Keraton Berlanjut di Tengah Pengamanan Ketat
Pantauan di lapangan menunjukkan aparat kepolisian masih berjaga di sekitar kompleks keraton. Sebuah kendaraan taktis (rantis) disiagakan di depan Kori Kamandungan, pintu utama menuju area dalam keraton.
Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi keamanan, mengingat pengalaman masa lalu ketika terjadi gejolak saat transisi kekuasaan dari Pakubuwono XII ke XIII.
“Ya memang itu komitmen pemerintah supaya tidak terjadi (gejolak) seperti dulu. Pemerintah membantu menjaga keraton tetap kondusif,”
tegas GKR Timoer.
Makna Prosesi Tujuh Harian
Tradisi tujuh harian atau mitung dina menjadi momen penting bagi keluarga dan abdi dalem keraton untuk mendoakan arwah Sinuhun Pakubuwono XIII.
Rangkaian doa dan tahlil ini diyakini sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus pengiring perjalanan sang raja menuju keabadian.
Penerus Tahta Masih Menjadi Perbincangan
Di tengah suasana berkabung, muncul dua versi terkait penerus tahta Keraton Kasunanan Surakarta.
Pada Rabu (5/11/2025), KGPAA Hamangkunegoro menyatakan dirinya telah berdiri sebagai Pakubuwono XIV di depan jenazah ayahandanya sebelum prosesi pemakaman berlangsung.
Namun, Maha Menteri Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Tedjowulan, menegaskan bahwa belum ada kesepakatan resmi mengenai suksesi.
Untuk sementara, ia akan menjalankan fungsi sebagai pemangku ad interim hingga penobatan resmi dilakukan sesuai adat dan kesepakatan keluarga besar keraton.
Simbol Kesinambungan dan Doa untuk Sang Raja
Prosesi tujuh harian ini bukan hanya bentuk penghormatan spiritual, tetapi juga simbol kesinambungan tradisi dan stabilitas Keraton Surakarta.
Keluarga berharap seluruh rangkaian acara berjalan damai, tertib, dan penuh makna, sebagai penghormatan terakhir bagi Sinuhun yang telah memimpin dengan wibawa dan keteduhan. Dikutip dari tribunnews.com