Harga minyak dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Asia, Selasa (16/6/2026), setelah sebelumnya anjlok ke level terendah dalam tiga bulan. Pelaku pasar kini menanti rincian lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip Investing.com, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus naik 0,7 persen menjadi USD83,71 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juli menguat 0,9 persen menjadi USD81,44 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua kontrak acuan sempat merosot hampir lima persen pada perdagangan Senin. Penurunan tajam dipicu pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai nota kesepahaman dengan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan serta memulihkan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Aksi jual besar-besaran sebelumnya menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang terbentuk selama konflik di kawasan Teluk. Akibatnya, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah sejak Maret 2026.
Pasar Menunggu Kejelasan Implementasi
Saat ini, perhatian investor beralih pada proses pelaksanaan kesepakatan damai dan seberapa cepat ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah dapat kembali normal.
Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan menghadiri upacara penandatanganan resmi kesepakatan di Jenewa, Swiss, pada Jumat mendatang. Meski pasar menyambut positif perkembangan tersebut, sejumlah analis menilai ketidakpastian masih cukup tinggi.
Selain proses pembukaan kembali Selat Hormuz, pelaku pasar juga mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti keamanan jalur pelayaran, biaya asuransi kapal, serta kecepatan pemulihan aktivitas ekspor energi.
Sejumlah lembaga riset memperkirakan normalisasi pasokan dan jalur distribusi minyak global tidak akan terjadi secara instan. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelum kembali ke kondisi normal.
OPEC Turunkan Proyeksi Permintaan Minyak
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh revisi proyeksi permintaan minyak global dari OPEC.
Pekan lalu, organisasi negara-negara pengekspor minyak tersebut kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026, menandai penurunan estimasi untuk bulan kedua berturut-turut.
OPEC kini memperkirakan permintaan minyak global hanya akan bertambah sekitar 970 ribu barel per hari pada tahun depan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai 1,17 juta barel per hari.
Penurunan proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan konsumsi energi global di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Meski demikian, pasar tetap mewaspadai kemungkinan munculnya gangguan pasokan baru. Persediaan energi global telah mengalami tekanan selama penutupan Selat Hormuz, sehingga setiap keterlambatan dalam implementasi kesepakatan atau pembukaan kembali jalur pelayaran berpotensi memicu volatilitas harga minyak di pasar internasional.