Dow Jones Raih Penguatan, Nasdaq Tertekan pada Penutupan Wall Street

Dow Jones Raih Penguatan, Nasdaq Tertekan pada Penutupan Wall Street

Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat. Pergerakan pasar dipengaruhi penerapan tarif impor baru Amerika Serikat, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah, kenaikan harga minyak, serta tekanan yang masih membayangi saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip Xinhua, Sabtu (25/7/2026), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,46 persen ke level 51.947,25.

Sementara itu, indeks S&P 500 naik tipis 0,05 persen menjadi 7.411,98.

Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru melemah 0,64 persen ke posisi 24.975,82 akibat tekanan pada saham-saham teknologi.

Sektor Real Estat Pimpin Penguatan

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sebanyak 10 sektor berhasil ditutup di zona hijau.

Sektor real estat memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 2,36 persen, disusul sektor material yang menguat 1,44 persen.

Sebaliknya, sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pelemahan dengan penurunan 0,88 persen.

Meskipun perdagangan pada Jumat berakhir relatif positif, ketiga indeks utama Wall Street masih membukukan pelemahan secara mingguan.

Kondisi tersebut dipicu aksi jual terhadap kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar yang dikenal sebagai Magnificent Seven. Secara kolektif, kelompok saham tersebut kehilangan hampir USD800 miliar kapitalisasi pasar pada Kamis akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja untuk pengembangan teknologi AI.

Tarif Impor Baru AS Mulai Berlaku

Sentimen pasar juga dipengaruhi kebijakan perdagangan terbaru pemerintah Amerika Serikat.

Mulai Jumat, pemerintah AS resmi memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap berbagai produk dari puluhan negara berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan 1974.

Kebijakan tersebut mulai berlaku setelah tarif sementara sebesar 10 persen yang dikenakan terhadap seluruh dunia berakhir pada pukul 00.01 waktu setempat.

Sebelumnya, pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan tarif sementara tersebut setelah Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif yang lebih luas pada Februari lalu.

Di sisi makroekonomi, data S&P Global Flash Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan aktivitas bisnis Amerika Serikat tumbuh pada laju tercepat dalam delapan bulan selama Juli 2026.

Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut didukung oleh penyelenggaraan Piala Dunia FIFA yang memberikan dorongan terhadap sektor jasa dan konsumsi.

Saham Intel dan American Express Tertekan

Dari sisi emiten, saham Intel anjlok hampir 8 persen meskipun laporan keuangan kuartal II perusahaan melampaui ekspektasi analis Wall Street.

Sementara itu, Verizon Communications dan NextEra Energy membukukan laba yang lebih baik dari perkiraan pasar. Namun, pendapatan kedua perusahaan tersebut masih berada di bawah proyeksi analis.

Di sektor keuangan, saham American Express turun lebih dari 4 persen.

Investor menyoroti prospek laba perusahaan yang tidak mengalami perubahan meskipun American Express menaikkan proyeksi pendapatan untuk 2026, didukung tetap kuatnya belanja nasabah premium pada sektor perjalanan, hiburan, dan konsumsi.

Analis JPMorgan juga memperingatkan potensi perlambatan pertumbuhan laba perusahaan pada 2026 akibat menyempitnya margin keuntungan serta tingginya tekanan biaya operasional.

“Peningkatan pendapatan sangat banyak, tetapi tren revisi menunjukkan bahwa bahan bakar mungkin mulai menipis,” tulis analis JPMorgan yang dipimpin Khuram Chaudry dalam catatan risetnya.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat, arah suku bunga Federal Reserve, serta kinerja laporan keuangan emiten sebagai faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan Wall Street dalam beberapa waktu mendatang.