Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hilman Mufidi mengungkapkan banyak perguruan tinggi swasta (PTS) saat ini berada dalam kondisi sulit. Persaingan yang semakin ketat membuat tidak sedikit PTS harus berjuang keras untuk mendapatkan mahasiswa baru.
Pernyataan tersebut disampaikan Hilman sebagai respons atas rencana pemerintah yang akan menghadirkan 10 universitas asal Inggris ke Indonesia. Menurut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kondisi di lapangan menunjukkan banyak kampus swasta kesulitan memenuhi kuota mahasiswa.
Hilman menilai, salah satu faktor yang memperberat kondisi PTS adalah kebijakan perguruan tinggi negeri (PTN) yang membuka kampus di berbagai daerah dengan kuota penerimaan mahasiswa dalam jumlah besar. Hal tersebut menyebabkan banyak calon mahasiswa lebih memilih kampus negeri.
Ia mengatakan, pembukaan kampus PTN di daerah dengan daya tampung besar berdampak langsung pada keberlangsungan perguruan tinggi swasta. Akibatnya, banyak PTS kehilangan potensi mahasiswa dan menghadapi ancaman penurunan operasional.
Ke depan, Hilman meminta pemerintah memastikan kebijakan menghadirkan kampus asing benar-benar bersifat komplementer, bukan kompetitif secara destruktif. Ia mengingatkan agar niat meningkatkan kualitas pendidikan nasional tidak justru menciptakan ketimpangan baru.
Menurutnya, perguruan tinggi nasional, khususnya PTS, selama ini telah berkontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan harus tetap mendapatkan perlindungan kebijakan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Inggris untuk mendirikan 10 universitas berstandar dunia di Indonesia. Presiden menyebut kerja sama pendidikan tersebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam forum UK–Indonesia Education Roundtable di Lancaster House, London, Presiden Prabowo mengatakan kerja sama pendidikan dengan Inggris telah terjalin melalui berbagai universitas di Indonesia, termasuk di Singosari dan Bandung, terutama di bidang digital dan teknologi.
Presiden menegaskan, percepatan peningkatan kualitas pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia mampu sejajar dengan negara-negara terbaik di dunia. Selain itu, ia juga menyoroti masih terbatasnya jumlah tenaga medis di Indonesia.
Presiden mencatat Indonesia saat ini hanya mampu menghasilkan sekitar 9.000 dokter setiap tahun, sementara kebutuhan nasional belum terpenuhi secara optimal. Kondisi tersebut diperparah dengan jumlah dokter yang akan memasuki masa pensiun dalam beberapa tahun ke depan, sehingga diperlukan perencanaan strategis di sektor pendidikan dan kesehatan.
Dikutip dari RRI.co.id