Nilai Tukar Rupiah Dibuka di Level Rp17.704 per USD

Nilai Tukar Rupiah Dibuka di Level Rp17.704 per USD

Rupiah melemah terhadap Dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan terjadi di tengah tekanan global akibat lonjakan harga minyak dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.704 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 36 poin atau sekitar 0,20 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat berada di level Rp17.661 per dolar AS. Nilai tukar rupiah masih bergerak melemah dibanding pembukaan perdagangan sebelumnya di level Rp17.491 per dolar AS.

Rupiah Diproyeksi Masih Fluktuatif

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan hari ini.

Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.680 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Ia menjelaskan ketidakpastian global akibat lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.

Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target dua persen The Fed,” ujar Ibrahim.

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasar

Ibrahim menambahkan situasi global semakin memanas setelah muncul serangan drone di wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Selain itu, belum adanya tanda penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi geopolitik.

Sentimen tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dan memilih aset safe haven seperti dolar AS.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Namun, ia mencermati adanya perbedaan persepsi di kalangan pelaku pasar terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang turut memengaruhi sentimen terhadap rupiah.