Nilai Tukar Rupiah Naik ke Level Rp17.845 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Naik ke Level Rp17.845 per Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Senin (1/6/2026). Penguatan ini terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global yang dipicu oleh harapan tercapainya kesepakatan lanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.12 WIB, rupiah berada di level Rp17.845 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 36 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.881 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah diperdagangkan di level Rp17.878 per dolar AS pada periode yang sama.

Meski dibuka menguat, analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada penutupan perdagangan.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.800 per dolar AS hingga Rp18.100 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran

Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang mendukung pergerakan rupiah adalah laporan mengenai tercapainya draf kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Kesepakatan tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, khususnya terkait aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.

Namun demikian, usulan perpanjangan gencatan senjata tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump. Selain itu, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz disebut masih berada di bawah tingkat normal sebelum konflik terjadi.

“Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, harga minyak dunia masih bergerak fluktuatif akibat perkembangan situasi geopolitik yang terus berubah. Kenaikan harga energi global berpotensi memengaruhi inflasi dan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

The Fed dan Data Ekonomi AS Jadi Perhatian

Investor juga mencermati sejumlah data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) menunjukkan tekanan harga masih relatif tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2026 tercatat lebih rendah dari perkiraan. Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh 1,6 persen, turun dari estimasi sebelumnya sebesar 2,0 persen.

Data pasar tenaga kerja juga menunjukkan perlambatan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran awal meningkat menjadi 215 ribu untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 211 ribu.

Arus Modal Asing Keluar dari Pasar Negara Berkembang

Ibrahim menilai kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan The Fed menjadi salah satu faktor utama yang memicu keluarnya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Investor global cenderung mengalihkan dananya ke instrumen keuangan di AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik, seperti obligasi pemerintah.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Kekhawatiran terhadap defisit fiskal, prospek anggaran negara, serta penilaian lembaga pemeringkat internasional menjadi perhatian pelaku pasar.

Tingginya harga minyak global juga meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia sehingga mendorong permintaan dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi menekan surplus neraca perdagangan dan membatasi pasokan valuta asing di pasar domestik.

Di samping itu, kebutuhan korporasi terhadap dolar AS untuk pembayaran dividen dan transaksi impor rutin turut menambah tekanan terhadap mata uang rupiah.

“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN),” ujar Ibrahim.