Pedagang Pasar Tradisional Kini Beralih ke Pembayaran Digital lewat QRIS

Pedagang Pasar Tradisional Kini Beralih ke Pembayaran Digital lewat QRIS

Perkembangan teknologi pembayaran digital mulai mengubah kebiasaan transaksi di pasar tradisional. Jika sebelumnya pedagang dan pembeli lebih banyak mengandalkan uang tunai, kini sejumlah pedagang mulai menyediakan pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Salah satunya Imam, pedagang ayam di Pasar Serpong, Tangerang Selatan. Ia mengaku baru menggunakan QRIS sekitar tiga bulan terakhir untuk memudahkan pembeli yang tidak membawa uang tunai.

“Biar enak aja, kayak sekarang nggak ada yang pakai duit kalau ke pasar. Soalnya kalau yang belanja kan kadang-kadang nggak ada duit (cash), itu pakainya QRIS,” ujar Imam.

Transaksi Tanpa Uang Tunai

Kehadiran QRIS memberikan alternatif pembayaran bagi pembeli di pasar tradisional. Pembeli cukup memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut untuk menyelesaikan transaksi tanpa perlu menyiapkan uang tunai atau menunggu kembalian.

Penggunaan pembayaran digital juga mulai menjangkau lebih banyak pedagang di pasar rakyat. Digitalisasi tersebut menjadi salah satu perkembangan dalam pola transaksi masyarakat di pasar tradisional.

Ribuan Pasar Rakyat Mulai Terdigitalisasi

Kementerian Perdagangan mencatat hingga 2025 sekitar 6.870 pasar rakyat telah mendapatkan fasilitasi digital yang melibatkan lebih dari 300 ribu pedagang.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat hingga Juni 2026 QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 96,68 persen merchant merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).