Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan awal Asia, Senin, 11 Mei 2026. Penguatan dolar didorong data ketenagakerjaan AS yang solid serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu permintaan terhadap aset safe-haven.
Mengutip data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat naik ke level 98,001 pada awal perdagangan Asia.
Penguatan dolar membuat sejumlah mata uang utama lainnya melemah. Euro turun 0,2 persen ke level USD1,1767, sementara yen Jepang melemah 0,1 persen menjadi 156,905 yen per dolar AS.
Poundsterling Inggris juga terkoreksi 0,3 persen ke posisi USD1,3597. Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,2 persen menjadi USD0,7234 dan dolar Selandia Baru melemah 0,3 persen menjadi USD0,5948.
Sentimen positif bagi dolar AS berasal dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada akhir pekan lalu. Data tersebut menunjukkan penambahan lapangan kerja non-pertanian mencapai 115 ribu pada April 2026, hampir dua kali lipat lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Selain faktor ekonomi, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington terkait konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu terakhir.
Trump menyebut respons Iran terhadap proposal tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima, sehingga memudarkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Melalui mediator Pakistan, Iran mengajukan sejumlah syarat, termasuk pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan hak Iran untuk melanjutkan sebagian aktivitas nuklirnya.
Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 3,3 persen hingga mencapai USD104,65 per barel pada perdagangan Senin.
Kenaikan harga minyak dan meningkatnya risiko geopolitik membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS.