The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar AS Menguat di Pasar Global

The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar AS Menguat di Pasar Global

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis (30/4/2026) WIB, didorong oleh rilis data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan serta kebijakan moneter yang tetap ketat.

Mengacu data pasar, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya naik sebesar 0,24 persen.

Penguatan dolar didukung oleh sejumlah indikator ekonomi, termasuk data pembangunan perumahan dan pesanan baru barang modal inti pada Maret yang menunjukkan kinerja positif ekonomi AS.

Sentimen Inflasi dan Harga Energi

Kenaikan harga minyak mentah global yang mencapai lebih dari enam persen turut meningkatkan ekspektasi inflasi. Kondisi ini memperkuat pandangan kebijakan moneter yang cenderung ketat atau hawkish dari Federal Reserve.

Ekspektasi inflasi yang tinggi membuat dolar AS semakin menarik bagi investor, terutama di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, khususnya terkait perebutan kendali di Selat Hormuz, turut mendorong permintaan dolar sebagai aset safe haven.

Kebijakan Suku Bunga The Fed

Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Dalam pernyataannya, FOMC menyebutkan bahwa aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan solid, meskipun inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi global.

Ketua Federal Reserve menegaskan bahwa bank sentral akan terus memantau data ekonomi, prospek ke depan, serta keseimbangan risiko sebelum mengambil langkah kebijakan selanjutnya.

Dari 12 anggota FOMC, sebanyak 11 anggota mendukung keputusan mempertahankan suku bunga, sementara satu anggota, Stephen Miran, mengusulkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Prospek Kebijakan ke Depan

FOMC juga menegaskan komitmennya untuk mencapai target inflasi sebesar 2 persen serta mendukung penciptaan lapangan kerja maksimal.

Ke depan, arah kebijakan moneter akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta dampak ketegangan geopolitik global.

Penguatan dolar AS diperkirakan masih berlanjut selama ketidakpastian global dan tekanan inflasi tetap tinggi.